fbpx

Candi Penataran Blitar, Wisata Sejarah Yang Masih Populer

Candi Penataran Blitar

Candi Penataran Blitar - Salah satu wisata sejarah yang ada di Kota Blitar dan masih populer di berbagai kalangan yakni candi Penataran, Candi Penataran, yang juga dikenal sebagai Candi Palah, adalah kompleks candi Hindu Siwa yang terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Berdiri megah di lereng barat daya Gunung Kelud, Candi Penataran merupakan salah satu kompleks candi Hindu termegah dan terluas di Jawa Timur. Dibangun pada masa Kerajaan Kediri, sekitar abad ke-12, candi ini menyimpan kekayaan sejarah dan budaya yang tak ternilai.

Sejarah dan Latar Belakang Candi Penataran Blitar

Candi Penataran didirikan pada masa pemerintahan Raja Srengga (1190-1200) dari Kerajaan Kediri. Tujuan utama pendirian candi ini adalah sebagai tempat pemujaan untuk menangkal bahaya dari Gunung Kelud, yang sering kali meletus dan mengancam penduduk sekitar. Dalam Kitab Negarakretagama, candi ini disebut sebagai Candi Palah, yang merupakan tempat yang pernah dikunjungi Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit dalam perjalanannya mengelilingi Jawa Timur.

Para ahli arkeologi menguatkan bahwa nama asli dari Candi Penataran adalah Candi Palah, sesuai dengan narasi pada Prasasti Palah yang berangka tahun 1194. Fungsi utama candi ini sebagai tempat ibadah tetap dipertahankan hingga masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dari Majapahit, di mana candi ini digunakan untuk pemujaan terhadap Hyang Acalapat, perwujudan Siwa sebagai Girindra atau Dewa Penguasa Gunung.

Kompleks Candi Penataran

Kompleks Candi Penataran menempati area seluas hampir 13.000 meter persegi, yang terbagi menjadi tiga bagian: halaman depan, tengah, dan belakang. Masing-masing bagian dipisahkan oleh dinding, menunjukkan bahwa pembangunan kompleks ini tidak terjadi dalam satu periode, melainkan bertahap.

Halaman Depan

Di halaman depan, pengunjung akan disambut oleh pintu gerbang yang diapit oleh dua Arca Dwarapala berangka tahun 1242 Saka (1320 M). Di halaman ini terdapat beberapa bangunan penting, antara lain:

Bale Agung: Terletak di bagian barat laut halaman depan, Bale Agung diperkirakan digunakan sebagai tempat musyawarah para pendeta. Bangunan ini terbuat dari batu dengan dinding polos dan dilengkapi empat buah tangga.
Pendopo Teras: Berada di sebelah tenggara Bale Agung, Pendopo Teras berbentuk persegi panjang dan berangka tahun 1297 Saka (1375 M). Bangunan ini mungkin digunakan untuk meletakkan sesaji dalam upacara keagamaan atau sebagai tempat peristirahatan raja dan bangsawan lainnya. Dindingnya dihiasi relief-relief yang menggambarkan berbagai kisah seperti Bubhuksah dan Gagang Aking, Sang Satyawan, dan Sri Tanjung.
Candi Candra Sengkala: Dikenal juga sebagai Candi Brawijaya atau Candi Ganesha, bangunan ini berangka tahun 1291 Saka (1369 M) dan berisi arca Ganesha. Candi ini berada di sebelah tenggara Pendopo Teras.

Halaman Tengah

Halaman tengah atau halaman kedua memiliki dua arca Dwarapala yang lebih kecil dari yang di pintu masuk utama, berangka tahun 1214 Saka (1319 M). Di sini terdapat:

Candi Naga: Hanya tersisa bagian kaki dan badan candi, dengan lebar 4,83 meter, panjang 6,57 meter, dan tinggi 4,70 meter. Candi ini dinamakan demikian karena tubuh candi dihiasi dengan lilitan naga yang disangga tokoh-tokoh berbusana seperti raja.
Fondasi Bata: Fondasi ini diperkirakan sebagai pintu masuk ke halaman ketiga. Terdapat sekumpulan ambang pintu dan dua arca Dwarapala di sudut barat halaman ini.

Halaman Belakang

Halaman belakang dianggap paling sakral, di mana terdapat bangunan candi utama dan Prasasti Palah.

Candi Utama: Candi induk terdiri dari tiga teras yang tersusun dengan tinggi 7,19 meter. Pada setiap sisi tangga terdapat arca Mahakala berangka tahun 1269 Saka (1347 M). Teras pertama dikelilingi relief Cerita Ramayana, dan ada sebuah candi kecil dari batu yang disebut bathara kecil, dibangun bersamaan dengan Prasasti Palah.
Prasasti Palah: Prasasti ini berangka tahun 1119 Saka (1197 M), dibuat oleh Raja Srengga, menggambarkan kebahagiaan Kertajaya setelah selamat dari bencana. Prasasti ini merupakan bukti penting dari sejarah panjang Candi Penataran.
Penemuan dan Pemugaran
Setelah lama tidak terawat, Candi Penataran pertama kali ditemukan kembali oleh Thomas Stamford Raffles pada tahun 1815. Sejak itu, candi ini telah menjadi objek studi dan perhatian banyak arkeolog dan sejarawan, yang terus berusaha mengungkap lebih banyak tentang sejarah dan fungsinya.

Candi Penataran bukan hanya peninggalan sejarah yang penting, tetapi juga cerminan dari kebesaran peradaban masa lalu yang penuh dengan kepercayaan dan nilai-nilai spiritual. Kompleks candi ini tetap menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang sejarah Indonesia, dari masa Kerajaan Kediri hingga Majapahit.

Tour Package